Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Diplomasi Budaya ke Rusia

 

Foto dok. Umum

Tulisan pendek dari redaksi

Jakarta ( Sukabumi Pos)- Peringatan Hari Puisi Nasional yang jatuh setiap 28 April kembali menjadi momentum untuk mengenang sosok Chairil Anwar, penyair legendaris Indonesia yang dikenal sebagai pelopor Angkatan 45. Tanggal tersebut dipilih untuk mengenang hari wafatnya Chairil, yang meski meninggal di usia muda, 27 tahun, telah meninggalkan jejak kuat dalam dunia sastra Indonesia.

Karya-karya Chairil Anwar yang penuh semangat, keberanian, dan kebebasan berekspresi masih terus hidup dan menjadi inspirasi lintas generasi. Puluhan puisinya, seperti “Aku” dan “Karawang-Bekasi”, menjadi simbol perlawanan dan semangat kemerdekaan dalam sastra Indonesia.

Dalam momentum tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan rencana strategis dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional. Salah satunya dengan mengirimkan patung Chairil Anwar ke Rusia sebagai bentuk balasan atas kontribusi negara tersebut yang sebelumnya menyumbangkan patung Leo Tolstoy ke Indonesia.

“Nanti patung Chairil Anwar akan ditempatkan di salah satu universitas yang memiliki kajian Bahasa Indonesia, seperti di St. Petersburg atau Rusia,” jelas Fadli Zon.

Menurutnya, langkah ini bukan sekadar pertukaran simbolik, melainkan upaya mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Rusia, sekaligus memperkenalkan tokoh sastra nasional ke dunia internasional. Chairil Anwar dinilai sebagai figur yang layak dikenalkan lebih luas, mengingat kontribusinya yang besar dalam membentuk identitas sastra modern Indonesia.

“Seperti diketahui, Chairil Anwar wafat pada usia 27 tahun dan telah menghasilkan puluhan puisi yang terus menjadi inspirasi lintas generasi,” sambung Fadli.

Pada kesempatan itu, Fadli membacakan salah satu puisi karya almarhum Chairil Anwar yang berjudul " Yang Terampas dan Yang Putus " perlu diketahui, puisi itu masuk dalam buku " Kerikil Tajam" 

Peringatan Hari Puisi Nasional pun tidak hanya menjadi ajang refleksi atas warisan sastra, tetapi juga membuka ruang kolaborasi budaya antarbangsa, sekaligus menegaskan posisi sastra sebagai jembatan diplomasi yang melintasi batas negara.

Redaktur : Rangga
Editor : Hilman
Reporter : Sri Kinantias
Lebih baru Lebih lama