Multatuli dan Jejak Kebangkitan Nasional Indonesia


Foto Google

Sebagai penulis dan pengguna media, saya sebagai redaktur utama media Sukabumi Pos yang didirikan tahun 1999 bertepatan dengan reformasi. Saya sempat menggunakan sebuah nama sebagai nama samaran untuk akun facebok, ya itu Max Havelaar dan akun youtube juga dengan nama yang sama, Max Havelaar. 

Hari ini, 20 Mei tahun 2026, kembali nama Max Havelaar atau Multatuli kembali mengingat pada penulis nama tersebut ada kiprahnya dalam tahapan emosional kebangkitan nasional. 

Berdasarkan beberapa sumber, penulis ingin mengingatkan kita bersama dalam suasana memperingati hari kebangkitan nasional pada tahun ini. Semoga tulisan ini bermanfaat. 

Nama Multatuli menjadi salah satu tokoh penting yang memiliki pengaruh besar terhadap lahirnya semangat kebangkitan nasional di Indonesia. Sosok yang memiliki nama asli Eduard Douwes Dekker itu dikenal sebagai penulis Belanda yang berani membongkar praktik penindasan kolonial terhadap rakyat pribumi di Hindia Belanda melalui karya terkenalnya, Max Havelaar. 

Multatuli pernah bertugas sebagai pejabat kolonial di wilayah Lebak, Banten, pada pertengahan abad ke-19. Selama menjalankan tugasnya, ia menyaksikan langsung penderitaan rakyat akibat sistem tanam paksa, penyalahgunaan kekuasaan, serta ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial dan para penguasa lokal. Pengalaman itu kemudian dituangkannya dalam novel Max Havelaar yang terbit pada tahun 1860. 

Melalui karya tersebut, Multatuli mengkritik keras kolonialisme Belanda dan membuka mata dunia terhadap penderitaan rakyat Indonesia. Novel itu tidak hanya mengguncang masyarakat Belanda, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kaum terpelajar pribumi yang mulai tumbuh pada awal abad ke-20. 

Semangat perlawanan terhadap ketidakadilan yang disuarakan Multatuli kemudian ikut memengaruhi lahirnya kesadaran nasional di kalangan pemuda Indonesia. Kebangkitan nasional yang ditandai berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi awal munculnya gerakan persatuan dan nasionalisme bangsa Indonesia. 

Pengaruh pemikiran Multatuli juga terlihat pada tokoh-tokoh pergerakan nasional, termasuk Ernest Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi, tokoh nasionalis keturunan Indo-Belanda yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Multatuli. Ernest Douwes Dekker dikenal sebagai salah satu pendiri Indische Partij bersama Ki Hajar Dewantara dan dr. Cipto Mangunkusumo dalam memperjuangkan kesetaraan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Kini, nama Multatuli dikenang sebagai sosok yang berani menyuarakan kemanusiaan dan keadilan di tengah kuatnya sistem kolonialisme. Pemikirannya menjadi salah satu pemantik lahirnya kesadaran nasional yang kemudian berkembang menjadi gerakan kebangkitan bangsa Indonesia.

NB: Tulisan ini dipadukan dari berbagai sumber. 

Penulis : Robin Angga Gunawan

Lebih baru Lebih lama